Minggu, 24 Maret 2013

Merindukanmu...

Diposting oleh Diah Novianti di 07.43 0 komentar
Well, untuk siapapun kamu yang sedang merasa rindu pada seseorang, yang sedang menunggu kepulangan seseorang, yang sedang menanti kabar seseorang, ini lagu emang pas banget! Entah kenapa lagu-lagu dari D'massiv emang selalu ngena di hati. Selalu memberikan suasana yang beda. Cuma pengen share lirik lagu satu ini aja. Lagu ini diperuntukkan untuk kamu. Yang terhalang oleh jarak, yang terselubung oleh waktu (:


Saat aku tertawa di atas semua
Saat aku menangisi kesedihanku
Aku ingin engkau selalu ada
Aku ingin engkau aku kenang

Selama aku masih bernafas
Masih sanggup berjalan
Ku kan slalu memujamu
Meski ku tak tahu lagi
Engkau ada di mana
Dengarkan aku ku merindukanmu

Saat aku mencoba merubah segalanya
Saat aku meratapi kekalahanku
Aku ingin engkau selalu ada
Aku ingin engkau aku kenang

Selama aku masih bernafas
Masih sanggup berjalan
Ku kan slalu memujamu
Meski ku tak tahu lagi
Engkau ada di mana
Dengarkan aku ku merindukanmu


:) :)

Rabu, 06 Maret 2013

Someone in distance...

Diposting oleh Diah Novianti di 04.04 0 komentar

-Dan pertemuan singkat tak pernah terasa sederhana bagi mereka yang terpisah oleh jarak-
Jarak terlalu egois! Aku rindu kamu. Aku kangen kamu. Jarak terlalu egois memisahkan kita! Begitulah kira-kira kata hati Nadia saat ini. Ketika ia dihadapkan oleh berbagai sesuatu yang dipisahkan oleh jarak, apa ia masih harus berjuang atau memilih berhenti? 

**

Nadia menghempaskan tubuhnya di sofa. Panas matahari yang merongrong di luar menyebabkan keringatnya terus bercucuran. Sambil meminum segelas jus jeruk siang itu, Nadia melihat-lihat tanggal di kalender. Sudah 4 bulan. Iya, sudah 4 bulan semenjak kepergian Rino. Air mata Nadia mulai menyembul kembali dari pelupuk matanya. Rino. Nama itu mungkin tak akan pernah pudar di hati Nadia. Orang yang selalu menemaninya, penyebab tangis dan tawanya kini telah hilang. Ini bulan ke-empat semenjak kematian Rino. Tanggal 27 pasti akan selalu menjadi tanggal yang tidak akan pernah luput dari ingatannya. Nadia selalu menyesali perbuatannya dulu, memaki-maki Rino sehari sebelum ia pergi, bahkan Nadia pun tak sempat melihat jenazah Rino.

“Aku kangen kamu, Rin. Maafin aku.”

Nadia tak pernah mengerti, mengapa perpisahan selalu menimbulkan jarak yang sangat jauh untuk seseorang. Nadia menghela nafasnya, ia lelah sekali. Lalu ditidurkannya tubuhnya di sofa siang itu. 

**

Nadia berjalan-jalan di taman yang penuh dengan bunga berwarna-warni. Menimbulkan warna-warna yang sangat menyegarkan mata. Di sudut taman ia melihat seseorang, mengenakan kemeja abu-abu dengan skinny jeans berwarna gelap. Menangis terduduk di sudut taman. Siapa dia?

Maaf Bu, aku terlalu rapuh...

Diposting oleh Diah Novianti di 03.57 0 komentar

Ketika sang surya mulai merangkak naik dan panasnya merongrong kulit, di sanalah aku. Duduk dalam suatu tempat, bersenda gurau dengan teman-temanku. Seusai  pulang sekolah, aku sibuk dengan berbagai tugas dan kegiatanku. Sungguh, aku sangat tidak menyukai rumah! Bagiku rumah hanyalah tempat tinggal yang di dalamnya terdapat banyak orang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Mengapa orang-orang selalu menyukai rumah dan selalu mengatakan “home sweet home”? “home hell home”!  Aku mulai melihat jadwal les-ku hari ini. Tidak ada les. Berarti aku bebas tidur seharian sampai sore nanti. Atau mungkin keluar dengan teman-temanku dan berkunjung ke suatu tempat.
Seusai ganti baju aku berjalan ke kamar ibuku. Wanita yang menyimpan banyak beban di pundaknya. Menyimpan berbagai kesedihan di wajahnya. Wanita yang selalu berjuang untuk anak-anaknya.
Ibu. Aku menyebutnya Ibu. Wanita itu terlalu banyak memikul beban yang tidak seharusnya ia tanggung. Wajahnya tampak lebih tua dari umurnya sekarang. Aku menatapnya, menemukan sosok wanita yang selalu sayang kepada anak-anaknya.
“Udah pulang?”
“Udah Bu.”
Udah makan belum?” Ah. Aku selalu suka kata-kata ini. Ibu selalu memerhatikan aku lebih dari siapapun.
“Udah.”
Ibu. Aku menatapnya sekali lagi. Tulus. Aku mulai memperhatikan wajahnya. Kerutan disana-sini. Wajahnya kusam, tak secerah dulu. Matanya sendu, tak sebercahaya dulu.
“Kalau Ibu nyari kerja di Mataram aja, Diah gak apa kan tinggal di sini? Sama bapak.”
Aku diam. Entah karena dasar apa Ibu mengatakan kalimat itu. Mataku mulai memanas. Aku mulai merasakan bulir-bulir air mata akan jatuh mengalir dari kedua mataku. Kutidurkan tubuhku di tempat tidur Ibu. Berusaha menyembunyikan air mata yang sebentar lagi akan mengalir.
“Ibu nyari kerja di Mataram supaya gak keganggu sama acara-acara di sini. Kalau di Mataram Ibu bisa bebas nyari uang, buat Diah buat Adit.”
“Tapi nanti Ibu diomong-omongin sama orang-orang di sini.”
“Gak apa. yang penting Ibu bisa nyari uang buat anak-anak Ibu. Terserah orang lain mau ngomong apa.”
“Tapi nanti Diah sendirian. Diah gak suka tinggal di sini. Gak enak.”
“Ibu juga gak suka. Ibu ninggalin anak-anaknya Ibu bukan karena Ibu mau nyari uang buat diri Ibu sendiri, justru karena Ibu sayang sama anak-anaknya Ibu. Supaya Ibu bisa beliin apa yang anak-anaknya Ibu pengen.
“Terus Diah sama siapa?”
“Kan ada Bapak. Nanti ibu buatin Diah tabungan, buat Ibu kirimin uang tiap bulan.”
Aku terdiam, menangis tanpa suara. Ibu memalingkan wajahnya kepadaku. Aku tahu dia menatapku. Aku takut menatapnya balik. Terlalu menyedihkan.
“Diah, kan baru rencana. Kalau Ibu udah bisa kerja bebas di sana, Diah mau ikut sama Ibu?”
“Mau.” Dengan polos aku mengatakannya.
Aku melihat Ibuku mengusap matanya. Entah apakah ia ikut menangis juga. Aku melihat wajah wanita itu. Banyak kesedihan yang ia sembunyikan selama ini. Banyak penderitaan yang ia jalani selama ini.
“Diah, Ibu kerja buat anak-anak Ibu. Karna Ibu sayang. Ibu pengen anak-anaknya Ibu seneng.”
“Iya.”
Dan percakapan siang itu terhenti. Makanan siang itu terasa hambar, sehambar perasaanku memikirkan percakapan singkat siang itu. Aku masih menangis. Berusaha menyembunyikan air mata yang terus berjatuhan. Menyembunyikan perasaan sedih yang mendalam. Ibu. Wanita itu terlalu kuat menjalani hidupnya. Terlalu kuat untuk menopang beban-beban di pundaknya. Maaf Bu, aku terlalu rapuh…

Kamu, si pria bertubuh raksasa...

Diposting oleh Diah Novianti di 03.54 0 komentar

Kamu. Iya, kamu. Si pria bertubuh raksasa berhati hello kitty. Aku menulis ini dengan sebuah perasaan tak menentu. Sayang? Jangan bilang ini sayang! Kamu selalu hadir di setiap atmosfer hari-hariku. Di setiap waktu yang kian tak menentu. Kau anggap apa setiap percakapan manis yang tercipta setiap malam-malamku  selama ini? Aku anggap apa? Istimewa tentunya!
Hai kamu si pria bertubuh raksasa! Bolehkah hari-hari lebih lama lagi dan kamu tidak cepat-cepat pergi dari sini? Bisakah aku menunda waktu lebih lama lagi dan kamu tetap ada di sampingku? Aku merindukan kamu yang dulu, yang selalu menghubungiku dan setia menemaniku walaupun aku terus saja mengoceh tentang hubunganku dengan mantanku dulu. Bukankah kita masih sama-sama bertahan pada masa lalu?
Hai pria bertubuh raksasa. Bisakah kamu sedikit peka pada setiap kejadian-kejadian kecil yang tercipta pada hari-harimu? Bisakah kamu sedikit peka bahwa aku selalu terselubung oleh orang-orang yang kamu kagumi, yang kamu sayangi.
Aku senang setiap mendengar bel istirahat berbunyi dan tak sabar lagi untuk melangkahkan kakiku menuju kantin sekolah. Kamu selalu duduk manis di “angkringan” dekat kantin sambil menyiapkan senyum termanismu setiap aku lewat. Tanpa kata. Hanya senyum.
Hai pria bertubuh raksasa. Tahukah? Aku selalu senang dengan saat-saat itu. Rasanya semua terjadi begitu saja. Indah. Tulus. Apa perasaanmu setulus senyum yang selalu kamu berikan setiap aku melewati kantin sekolahan?
Kamu bilang sayang. Kamu bilang peduli. Tapi sikapmu seolah tak pernah menunjukkan itu. Kemana kamu yang dulu yang setiap malamnya selalu polos dengan mengirimkan pesan “Dek” untukku.
Apa semua KakakAdikan itu selalu berakhir miris? Entah. Kalau kakak mau pergi, Adik harus nahan Kakak? Kalau Kakak masih sayang sama mantan Kakak dan masih memperjuangkannya, Adik bakal marah? Kalau Kakak hanya datang dan pergi terus sampai buat Adik bingung sama perasaan Kakak, Adik bakal maksa Kakak buat terus di sini sama Adik? Gak Kak. Adik gak berhak sama itu semua. Adik gak pernah benci sama orang-orang yang pernah Adik sayang selama ini.

Dari si gadis pemimpi yang terlanjur mempunyai rasa untuk kamu.
Dari si gadis kecil yang selalu tak mempunyai cara untuk tidak gugup saat matamu menatap matanya.
Dari Adik yang selalu kamu beri harapan diam-diam di setiap percakapan kecil yang kau ciptakan.
:’)

Aku kangen masa-masa itu...

Diposting oleh Diah Novianti di 03.52 0 komentar

Dalam diam, hati seseorang merana. Dalam pilu, hati seseorang menangis. Dalam jarak, banyak kata-kata yang tak sempat terucap. Dalam mimpi, banyak angan-angan yang tersampaikan. Aku dan kamu. Dua orang yang ditakdirkan Tuhan untuk saling bertemu tapi tidak untuk saling bersatu. Aku dan kamu. Dua orang yang sama-sama mencintai tapi tidak untuk saling memiliki. Aku dan kamu. Dua orang yang terlalu melawan takdir untuk saling bersama tapi pada akhirnya akan dipisahkan oleh takdir itu juga.
Dunia seakan tak mengerti. Mauku begini. Maumu begitu. Lalu, perbedaan apakah yang pantas untuk disatukan? Bukankah setiap perbedaan akan mempunyai keindahan tersendiri jika berhasil disatukan? Tapi nyatanya, perbedaan aku dan kamu terlalu jauh. Mungkin. Hingga semua tak pantas untuk disatukan, tak pantas untuk saling memiliki.
Dulu, bukankah kita saling bersama? Tertawa pada setiap gurauan yang terselip pada percakapan kecil yang kita ciptakan. Bahagia menikmati hembusan angin yang membelai wajah kita dengan lembut. Tersenyum pada setiap kekonyolan yang tidak sengaja tercipta pada diri kita masing-masing. Ah, iya. Itu DULU. Sebelum perbedaan mulai meretakkan semua yang telah kita lalui. Terlalu banyak perbedaan.
Kamu lagi apa? Udah makan belum? Nanti sakit. Kamu lagi dimana? Hati-hati ya. Apa percakapan kecil seperti itu masih istimewa bagimu? Bagimu yang terpisah dalam jarak yang sejauh ini denganku. Apa percakapan kecil itu masih bisa tercipta jika kita bertemu lagi? Apa masih terasa istimewa jika kamu sudah memiliki orang lain yang berada di sampingmu?
Dan tulisan ini tercipta saat aku mulai mengerti rasanya kehilangan. Mengerti arti perpisahan sesungguhnya. Melihat realita bahwa begitu banyak orang yang belum mengerti artinya perpisahan jika mereka belum benar-benar merasakan apa itu perpisahan. Berbahagialah dengan apa yang kamu punya sekarang. Dan tulisan ini terinspirasi dari seseorang yang menyukai fisika, yang bercita-cita melanjutkan sekolah di ITB jurusan teknik. Untuk kamu yang pernah ada di sini sebelumnya.
Aku kangen masa-masa itu… 

Sabtu, 16 Februari 2013

Valentine's Day

Diposting oleh Diah Novianti di 04.21 0 komentar
Happy Valentine everybody! Xoxo. Hope all of you can found many happiness in this year. I'm sorry late to say it (:
Valentine day = hari kasih sayang. Berkasih sayanglah kepada orang yang menyayangimu dan kamu sayangi. Well, mungkin gak harus saat ini aja kamu berkasih sayang. Everday is Valentine! Be my valentine and don't go away.
Kasih sayang itu perlu. Semua orang selalu butuh yang namanya kasih sayang. Apa kamu tahu apa itu kasih sayang? Kasih sayang itu sederhana, bukan sebatang coklat atau sebuket bunga atau juga bukan sebuah boneka. Kasih sayang itu sederhana, sesederhana orang yang kamu sayangi menyayangimu dengan tulus.
Apa artinya menyayangi? Entahlah. Mungkin sebuah perasaan tulus untuk orang yang kamu sayangi. Atau juga perasaan seseorang yang diam-diam tumbuh untuk orang yang sudah memiliki kekasih. Hahaha! Kasih sayang itu tumbuh karena terbiasa. Terbiasa melihat orang yang pada awalnya hanya seseorang yang tidak penting bagimu. Kamu tahu, setiap orang berhak atas yang namanya kasih sayang. Dalam bentuk apapun, kasih sayang itu perlu dan berhak dirasakan semua orang. Lihatlah orang tuamu yang bekerja setiap hari untuk membiayai pendidikanmu, sesederhana itu kasih sayang tercipta. Lihatlah matahari yang bersinar tanpa lelah kepada bumi, sesederhana itu kasih sayang terjadi.
Valentine itu hanya simbolis. Hari kasih sayang bukan hanya terjadi di hari Valentine. Lihatlah dan rasakan setiap harimu, kamu akan menemukan bahwa kasih sayang ternyata terjadi pada setiap harimu. Sengaja tidak sengaja, setiap detik setiap menit, kasih sayang mengalir pada setiap harimu (:

And even if the sun refuse to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart, until the end of time
’cause all I need,
is you, my valentine
You’re all I need,
my love, my valentine


Temukan kebahagiaanmu dan tebarlah kasih sayangmu (:

With love,
Diah.

Selasa, 22 Januari 2013

Neptunus-Saturnus...

Diposting oleh Diah Novianti di 05.48 0 komentar
Aku sebuah Saturnus, yang ingin selalu dekat dengan Neptunus. Karna dia planetku, yang selalu berdampingan saatku mengorbit. 
Aku ingin menjadi Saturnus, yang selalu bisa bersebelahan dengan Neptunus. Karna dia gravitasiku, yang mengikatku untuk tak bisa lagi berpaling lagi.
Aku pernah menjadi Saturnus, yang selalu dihempaskan Neptunus. Karna dia begitu indah, karna dia bisa melakukan apapun yang dia mau.
Tapi kamu Neptunus, yang selalu ada di sampingku saat aku mengorbit. Yang selalu ada di sampingku saat aku bersinar. Yang selalu ada di sampingku saat hujan meteor melubangi atmosferku.
Tapi kamu Neptunus, yang selalu menganggap bahwa aku tak pernah ada. Yang selalu menjauhi aku saat aku terlalu lelah mengorbit. Yang selalu melukai hatiku saat aku sudah terlalu -sangat terlalu- lelah untuk mengorbit.
Aku cuma Saturnus. Yang terlalu terpaku pada daya tarikmu. Yang terlalu terjerat pada gravitasimu. Sampai aku tak mampu mengatasi sudah berapa banyak lubang yang tercipta pada atmosfer hatiku. 
Kenyatannya aku cuma Saturnus, yang hanya bisa diam ketika kamu pergi, ketika Uranus mengalihkan duniamu, bahkan aku tak pernah berarti apa-apa lagi di matamu. 
Kenyataannya aku cuma Saturnus, yang hanya bisa diam, ketika aku terhalang oleh keindahan Uranus yang selalu mendapatkan sinarmu.
Kamu Neptunus, aku Saturnus. Tapi Uranus? Haruskah dia menghalangi kita? Ya. Karna Uranus selalu bisa lebih dekat denganmu. Karna Uranus lebih berarti dari apapun dibandingkan aku. Karna Uranus lebih memiliki banyak persamaan denganmu dibanding aku. 
Karna aku cuma Saturnus. Saturnus yang sudah terlalu lelah mengorbit terlalu jauh lagi, terlalu lelah mengorbit untuk mendapatkan perhatianmu...




Minggu, 24 Maret 2013

Merindukanmu...

Diposting oleh Diah Novianti di 07.43 0 komentar
Well, untuk siapapun kamu yang sedang merasa rindu pada seseorang, yang sedang menunggu kepulangan seseorang, yang sedang menanti kabar seseorang, ini lagu emang pas banget! Entah kenapa lagu-lagu dari D'massiv emang selalu ngena di hati. Selalu memberikan suasana yang beda. Cuma pengen share lirik lagu satu ini aja. Lagu ini diperuntukkan untuk kamu. Yang terhalang oleh jarak, yang terselubung oleh waktu (:


Saat aku tertawa di atas semua
Saat aku menangisi kesedihanku
Aku ingin engkau selalu ada
Aku ingin engkau aku kenang

Selama aku masih bernafas
Masih sanggup berjalan
Ku kan slalu memujamu
Meski ku tak tahu lagi
Engkau ada di mana
Dengarkan aku ku merindukanmu

Saat aku mencoba merubah segalanya
Saat aku meratapi kekalahanku
Aku ingin engkau selalu ada
Aku ingin engkau aku kenang

Selama aku masih bernafas
Masih sanggup berjalan
Ku kan slalu memujamu
Meski ku tak tahu lagi
Engkau ada di mana
Dengarkan aku ku merindukanmu


:) :)

Rabu, 06 Maret 2013

Someone in distance...

Diposting oleh Diah Novianti di 04.04 0 komentar

-Dan pertemuan singkat tak pernah terasa sederhana bagi mereka yang terpisah oleh jarak-
Jarak terlalu egois! Aku rindu kamu. Aku kangen kamu. Jarak terlalu egois memisahkan kita! Begitulah kira-kira kata hati Nadia saat ini. Ketika ia dihadapkan oleh berbagai sesuatu yang dipisahkan oleh jarak, apa ia masih harus berjuang atau memilih berhenti? 

**

Nadia menghempaskan tubuhnya di sofa. Panas matahari yang merongrong di luar menyebabkan keringatnya terus bercucuran. Sambil meminum segelas jus jeruk siang itu, Nadia melihat-lihat tanggal di kalender. Sudah 4 bulan. Iya, sudah 4 bulan semenjak kepergian Rino. Air mata Nadia mulai menyembul kembali dari pelupuk matanya. Rino. Nama itu mungkin tak akan pernah pudar di hati Nadia. Orang yang selalu menemaninya, penyebab tangis dan tawanya kini telah hilang. Ini bulan ke-empat semenjak kematian Rino. Tanggal 27 pasti akan selalu menjadi tanggal yang tidak akan pernah luput dari ingatannya. Nadia selalu menyesali perbuatannya dulu, memaki-maki Rino sehari sebelum ia pergi, bahkan Nadia pun tak sempat melihat jenazah Rino.

“Aku kangen kamu, Rin. Maafin aku.”

Nadia tak pernah mengerti, mengapa perpisahan selalu menimbulkan jarak yang sangat jauh untuk seseorang. Nadia menghela nafasnya, ia lelah sekali. Lalu ditidurkannya tubuhnya di sofa siang itu. 

**

Nadia berjalan-jalan di taman yang penuh dengan bunga berwarna-warni. Menimbulkan warna-warna yang sangat menyegarkan mata. Di sudut taman ia melihat seseorang, mengenakan kemeja abu-abu dengan skinny jeans berwarna gelap. Menangis terduduk di sudut taman. Siapa dia?

Maaf Bu, aku terlalu rapuh...

Diposting oleh Diah Novianti di 03.57 0 komentar

Ketika sang surya mulai merangkak naik dan panasnya merongrong kulit, di sanalah aku. Duduk dalam suatu tempat, bersenda gurau dengan teman-temanku. Seusai  pulang sekolah, aku sibuk dengan berbagai tugas dan kegiatanku. Sungguh, aku sangat tidak menyukai rumah! Bagiku rumah hanyalah tempat tinggal yang di dalamnya terdapat banyak orang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Mengapa orang-orang selalu menyukai rumah dan selalu mengatakan “home sweet home”? “home hell home”!  Aku mulai melihat jadwal les-ku hari ini. Tidak ada les. Berarti aku bebas tidur seharian sampai sore nanti. Atau mungkin keluar dengan teman-temanku dan berkunjung ke suatu tempat.
Seusai ganti baju aku berjalan ke kamar ibuku. Wanita yang menyimpan banyak beban di pundaknya. Menyimpan berbagai kesedihan di wajahnya. Wanita yang selalu berjuang untuk anak-anaknya.
Ibu. Aku menyebutnya Ibu. Wanita itu terlalu banyak memikul beban yang tidak seharusnya ia tanggung. Wajahnya tampak lebih tua dari umurnya sekarang. Aku menatapnya, menemukan sosok wanita yang selalu sayang kepada anak-anaknya.
“Udah pulang?”
“Udah Bu.”
Udah makan belum?” Ah. Aku selalu suka kata-kata ini. Ibu selalu memerhatikan aku lebih dari siapapun.
“Udah.”
Ibu. Aku menatapnya sekali lagi. Tulus. Aku mulai memperhatikan wajahnya. Kerutan disana-sini. Wajahnya kusam, tak secerah dulu. Matanya sendu, tak sebercahaya dulu.
“Kalau Ibu nyari kerja di Mataram aja, Diah gak apa kan tinggal di sini? Sama bapak.”
Aku diam. Entah karena dasar apa Ibu mengatakan kalimat itu. Mataku mulai memanas. Aku mulai merasakan bulir-bulir air mata akan jatuh mengalir dari kedua mataku. Kutidurkan tubuhku di tempat tidur Ibu. Berusaha menyembunyikan air mata yang sebentar lagi akan mengalir.
“Ibu nyari kerja di Mataram supaya gak keganggu sama acara-acara di sini. Kalau di Mataram Ibu bisa bebas nyari uang, buat Diah buat Adit.”
“Tapi nanti Ibu diomong-omongin sama orang-orang di sini.”
“Gak apa. yang penting Ibu bisa nyari uang buat anak-anak Ibu. Terserah orang lain mau ngomong apa.”
“Tapi nanti Diah sendirian. Diah gak suka tinggal di sini. Gak enak.”
“Ibu juga gak suka. Ibu ninggalin anak-anaknya Ibu bukan karena Ibu mau nyari uang buat diri Ibu sendiri, justru karena Ibu sayang sama anak-anaknya Ibu. Supaya Ibu bisa beliin apa yang anak-anaknya Ibu pengen.
“Terus Diah sama siapa?”
“Kan ada Bapak. Nanti ibu buatin Diah tabungan, buat Ibu kirimin uang tiap bulan.”
Aku terdiam, menangis tanpa suara. Ibu memalingkan wajahnya kepadaku. Aku tahu dia menatapku. Aku takut menatapnya balik. Terlalu menyedihkan.
“Diah, kan baru rencana. Kalau Ibu udah bisa kerja bebas di sana, Diah mau ikut sama Ibu?”
“Mau.” Dengan polos aku mengatakannya.
Aku melihat Ibuku mengusap matanya. Entah apakah ia ikut menangis juga. Aku melihat wajah wanita itu. Banyak kesedihan yang ia sembunyikan selama ini. Banyak penderitaan yang ia jalani selama ini.
“Diah, Ibu kerja buat anak-anak Ibu. Karna Ibu sayang. Ibu pengen anak-anaknya Ibu seneng.”
“Iya.”
Dan percakapan siang itu terhenti. Makanan siang itu terasa hambar, sehambar perasaanku memikirkan percakapan singkat siang itu. Aku masih menangis. Berusaha menyembunyikan air mata yang terus berjatuhan. Menyembunyikan perasaan sedih yang mendalam. Ibu. Wanita itu terlalu kuat menjalani hidupnya. Terlalu kuat untuk menopang beban-beban di pundaknya. Maaf Bu, aku terlalu rapuh…

Kamu, si pria bertubuh raksasa...

Diposting oleh Diah Novianti di 03.54 0 komentar

Kamu. Iya, kamu. Si pria bertubuh raksasa berhati hello kitty. Aku menulis ini dengan sebuah perasaan tak menentu. Sayang? Jangan bilang ini sayang! Kamu selalu hadir di setiap atmosfer hari-hariku. Di setiap waktu yang kian tak menentu. Kau anggap apa setiap percakapan manis yang tercipta setiap malam-malamku  selama ini? Aku anggap apa? Istimewa tentunya!
Hai kamu si pria bertubuh raksasa! Bolehkah hari-hari lebih lama lagi dan kamu tidak cepat-cepat pergi dari sini? Bisakah aku menunda waktu lebih lama lagi dan kamu tetap ada di sampingku? Aku merindukan kamu yang dulu, yang selalu menghubungiku dan setia menemaniku walaupun aku terus saja mengoceh tentang hubunganku dengan mantanku dulu. Bukankah kita masih sama-sama bertahan pada masa lalu?
Hai pria bertubuh raksasa. Bisakah kamu sedikit peka pada setiap kejadian-kejadian kecil yang tercipta pada hari-harimu? Bisakah kamu sedikit peka bahwa aku selalu terselubung oleh orang-orang yang kamu kagumi, yang kamu sayangi.
Aku senang setiap mendengar bel istirahat berbunyi dan tak sabar lagi untuk melangkahkan kakiku menuju kantin sekolah. Kamu selalu duduk manis di “angkringan” dekat kantin sambil menyiapkan senyum termanismu setiap aku lewat. Tanpa kata. Hanya senyum.
Hai pria bertubuh raksasa. Tahukah? Aku selalu senang dengan saat-saat itu. Rasanya semua terjadi begitu saja. Indah. Tulus. Apa perasaanmu setulus senyum yang selalu kamu berikan setiap aku melewati kantin sekolahan?
Kamu bilang sayang. Kamu bilang peduli. Tapi sikapmu seolah tak pernah menunjukkan itu. Kemana kamu yang dulu yang setiap malamnya selalu polos dengan mengirimkan pesan “Dek” untukku.
Apa semua KakakAdikan itu selalu berakhir miris? Entah. Kalau kakak mau pergi, Adik harus nahan Kakak? Kalau Kakak masih sayang sama mantan Kakak dan masih memperjuangkannya, Adik bakal marah? Kalau Kakak hanya datang dan pergi terus sampai buat Adik bingung sama perasaan Kakak, Adik bakal maksa Kakak buat terus di sini sama Adik? Gak Kak. Adik gak berhak sama itu semua. Adik gak pernah benci sama orang-orang yang pernah Adik sayang selama ini.

Dari si gadis pemimpi yang terlanjur mempunyai rasa untuk kamu.
Dari si gadis kecil yang selalu tak mempunyai cara untuk tidak gugup saat matamu menatap matanya.
Dari Adik yang selalu kamu beri harapan diam-diam di setiap percakapan kecil yang kau ciptakan.
:’)

Aku kangen masa-masa itu...

Diposting oleh Diah Novianti di 03.52 0 komentar

Dalam diam, hati seseorang merana. Dalam pilu, hati seseorang menangis. Dalam jarak, banyak kata-kata yang tak sempat terucap. Dalam mimpi, banyak angan-angan yang tersampaikan. Aku dan kamu. Dua orang yang ditakdirkan Tuhan untuk saling bertemu tapi tidak untuk saling bersatu. Aku dan kamu. Dua orang yang sama-sama mencintai tapi tidak untuk saling memiliki. Aku dan kamu. Dua orang yang terlalu melawan takdir untuk saling bersama tapi pada akhirnya akan dipisahkan oleh takdir itu juga.
Dunia seakan tak mengerti. Mauku begini. Maumu begitu. Lalu, perbedaan apakah yang pantas untuk disatukan? Bukankah setiap perbedaan akan mempunyai keindahan tersendiri jika berhasil disatukan? Tapi nyatanya, perbedaan aku dan kamu terlalu jauh. Mungkin. Hingga semua tak pantas untuk disatukan, tak pantas untuk saling memiliki.
Dulu, bukankah kita saling bersama? Tertawa pada setiap gurauan yang terselip pada percakapan kecil yang kita ciptakan. Bahagia menikmati hembusan angin yang membelai wajah kita dengan lembut. Tersenyum pada setiap kekonyolan yang tidak sengaja tercipta pada diri kita masing-masing. Ah, iya. Itu DULU. Sebelum perbedaan mulai meretakkan semua yang telah kita lalui. Terlalu banyak perbedaan.
Kamu lagi apa? Udah makan belum? Nanti sakit. Kamu lagi dimana? Hati-hati ya. Apa percakapan kecil seperti itu masih istimewa bagimu? Bagimu yang terpisah dalam jarak yang sejauh ini denganku. Apa percakapan kecil itu masih bisa tercipta jika kita bertemu lagi? Apa masih terasa istimewa jika kamu sudah memiliki orang lain yang berada di sampingmu?
Dan tulisan ini tercipta saat aku mulai mengerti rasanya kehilangan. Mengerti arti perpisahan sesungguhnya. Melihat realita bahwa begitu banyak orang yang belum mengerti artinya perpisahan jika mereka belum benar-benar merasakan apa itu perpisahan. Berbahagialah dengan apa yang kamu punya sekarang. Dan tulisan ini terinspirasi dari seseorang yang menyukai fisika, yang bercita-cita melanjutkan sekolah di ITB jurusan teknik. Untuk kamu yang pernah ada di sini sebelumnya.
Aku kangen masa-masa itu… 

Sabtu, 16 Februari 2013

Valentine's Day

Diposting oleh Diah Novianti di 04.21 0 komentar
Happy Valentine everybody! Xoxo. Hope all of you can found many happiness in this year. I'm sorry late to say it (:
Valentine day = hari kasih sayang. Berkasih sayanglah kepada orang yang menyayangimu dan kamu sayangi. Well, mungkin gak harus saat ini aja kamu berkasih sayang. Everday is Valentine! Be my valentine and don't go away.
Kasih sayang itu perlu. Semua orang selalu butuh yang namanya kasih sayang. Apa kamu tahu apa itu kasih sayang? Kasih sayang itu sederhana, bukan sebatang coklat atau sebuket bunga atau juga bukan sebuah boneka. Kasih sayang itu sederhana, sesederhana orang yang kamu sayangi menyayangimu dengan tulus.
Apa artinya menyayangi? Entahlah. Mungkin sebuah perasaan tulus untuk orang yang kamu sayangi. Atau juga perasaan seseorang yang diam-diam tumbuh untuk orang yang sudah memiliki kekasih. Hahaha! Kasih sayang itu tumbuh karena terbiasa. Terbiasa melihat orang yang pada awalnya hanya seseorang yang tidak penting bagimu. Kamu tahu, setiap orang berhak atas yang namanya kasih sayang. Dalam bentuk apapun, kasih sayang itu perlu dan berhak dirasakan semua orang. Lihatlah orang tuamu yang bekerja setiap hari untuk membiayai pendidikanmu, sesederhana itu kasih sayang tercipta. Lihatlah matahari yang bersinar tanpa lelah kepada bumi, sesederhana itu kasih sayang terjadi.
Valentine itu hanya simbolis. Hari kasih sayang bukan hanya terjadi di hari Valentine. Lihatlah dan rasakan setiap harimu, kamu akan menemukan bahwa kasih sayang ternyata terjadi pada setiap harimu. Sengaja tidak sengaja, setiap detik setiap menit, kasih sayang mengalir pada setiap harimu (:

And even if the sun refuse to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart, until the end of time
’cause all I need,
is you, my valentine
You’re all I need,
my love, my valentine


Temukan kebahagiaanmu dan tebarlah kasih sayangmu (:

With love,
Diah.

Selasa, 22 Januari 2013

Neptunus-Saturnus...

Diposting oleh Diah Novianti di 05.48 0 komentar
Aku sebuah Saturnus, yang ingin selalu dekat dengan Neptunus. Karna dia planetku, yang selalu berdampingan saatku mengorbit. 
Aku ingin menjadi Saturnus, yang selalu bisa bersebelahan dengan Neptunus. Karna dia gravitasiku, yang mengikatku untuk tak bisa lagi berpaling lagi.
Aku pernah menjadi Saturnus, yang selalu dihempaskan Neptunus. Karna dia begitu indah, karna dia bisa melakukan apapun yang dia mau.
Tapi kamu Neptunus, yang selalu ada di sampingku saat aku mengorbit. Yang selalu ada di sampingku saat aku bersinar. Yang selalu ada di sampingku saat hujan meteor melubangi atmosferku.
Tapi kamu Neptunus, yang selalu menganggap bahwa aku tak pernah ada. Yang selalu menjauhi aku saat aku terlalu lelah mengorbit. Yang selalu melukai hatiku saat aku sudah terlalu -sangat terlalu- lelah untuk mengorbit.
Aku cuma Saturnus. Yang terlalu terpaku pada daya tarikmu. Yang terlalu terjerat pada gravitasimu. Sampai aku tak mampu mengatasi sudah berapa banyak lubang yang tercipta pada atmosfer hatiku. 
Kenyatannya aku cuma Saturnus, yang hanya bisa diam ketika kamu pergi, ketika Uranus mengalihkan duniamu, bahkan aku tak pernah berarti apa-apa lagi di matamu. 
Kenyataannya aku cuma Saturnus, yang hanya bisa diam, ketika aku terhalang oleh keindahan Uranus yang selalu mendapatkan sinarmu.
Kamu Neptunus, aku Saturnus. Tapi Uranus? Haruskah dia menghalangi kita? Ya. Karna Uranus selalu bisa lebih dekat denganmu. Karna Uranus lebih berarti dari apapun dibandingkan aku. Karna Uranus lebih memiliki banyak persamaan denganmu dibanding aku. 
Karna aku cuma Saturnus. Saturnus yang sudah terlalu lelah mengorbit terlalu jauh lagi, terlalu lelah mengorbit untuk mendapatkan perhatianmu...




 

Diahhh's Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos